Showing posts with label Alam Raya. Show all posts
Showing posts with label Alam Raya. Show all posts

Saturday, December 1, 2012

NASA Ungkap Sisi Gelap Rumor 'Kiamat' Suku Maya

November akan Segera  berakhir. Bagi mereka yang percaya, itu berarti kiamat 21 Desember 2012 kian dekat. Seiring dengan habisnya Kalender Hitung Panjang (Long Count) Bangsa Maya. Cemas dan panik mungkin dirasakan sebagian orang.

Seperti dimuat situs sains LiveScience, ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sekali lagi muncul, untuk menenangkan ketakutan itu. Sekaligus memperingatkan sisi gelap ramalan "kiamat" Maya: anak-anak yang ketakutan, remaja tak kuat mental yang berpotensi bunuh diri. Mengira dunia benar-benar kiamat hari itu.

NASA kembali mengingatkan, ketakutan yang ada semata berdasarkan misinterpretasi kalender Maya. Pada 21 Desember nanti, b'aktun 13 akan berakhir. Para ahli Maya telah membantahnya sebagai pertanda kiamat, namun rumor merebak, peristiwa kosmik akan mengakhiri kehidupan di bumi.

Itu mengapa NASA tampil dan terlibat. Bahkan, dalam situsnya, ia menyediakan laman khusus tentang "2012" untuk membantah rumor itu. "Sama sekali tak ada isu penting," kata Astrobiogis NASA, David Morrison di Ames Research Centre, Rabu 28 November 2012 waktu setempat. "Yang ada hanyalah fantasi yang terus direproduksi."

Konsekuensi nyata

Yang disayangkan Morrison, fantasi itu menuntut konsekuensi nyata. Dia mengaku menerima surat elektronik berisi kecemasan banyak orang, khususnya generasi muda. Saking takutnya kiamat bakal terjadi, mereka tak doyan makan, bahkan terlalu khawatir sampai tak bisa tidur. Lainnya bahkan mengaku, berniat bunuh diri.

"Sementara kiamat hanya sekedar lelucon untuk sebagian orang, atau misteri bagi yang lain. Ada sebagian orang yang menganggapnya sangat serius," kata dia. "Jahat sekali orang-orang yang terus menyebar rumor kiamat untuk menakut-nakuti anak-anak."

Mitos dan salah persepsi

Para ilmuwan NASA menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk membantah mitos kiamat. Dari soal Nibiru hingga badai matahari yang dikira membunuh.

Nyatanya, ilmuwan NASA, Lika Guhathakurta mengakui, saat itu memang aktivitas matahari sedang meningkat, yang berarti energi elektromagnetisnya tinggi. Badai matahari bisa mempengaruhi peralatan elektronik dan sistem navigasi. Namun, satelit pemantau akan memberi peringatan yang memungkinkan manusia mencegah efek terburuk.

Sementara, tak ada planet atau benda langit lain yang mengancam akan menabrak Bumi pada 21 Desember mendatang. Demikian menurut Don Yeomans, ahli planet yang bertugas mengamati obyek dekat Bumi di Jet Propulsion Laboratory, NASA. Asteroid paling dekat dijadwalkan akan melintas dekat Bumi pada 13 Februari 2013. Itupun tak sampai menabrak planet manusia ini.

Rumor lain, pergeseran medan magnet Bumi disebut-sebut akan membuat planet ini melesat 30.000 tahun cahaya, lalu terjebak dalam lubang hitam di pusat Galaksi Bima Sakti. Isu itu juga ditepis para ilmuwan.

Atau, desas-desus bahwa Bumi akan padam pada 23-25 Desember mendatang. Ilmuwan yang mendengarnya langsung melongo. Apa dasarnya?

Ancaman nyata bagi manusia justru berasal dari dalam Bumi, perlahan tapi pasti terjadi. Salah satunya, perubahan iklim. Demikian menurut Andrew Fraknoi, astronom dari Foothill College, Kalifornia. Pendapat yang diamini ilmuwan NASA, Mitzi Adams. "Ancaman terbesar Bumi pada tahun 2012, pada akhir tahun ini, juga di masa depan justru berasal dari manusia itu sendiri." Bukan "kiamat" Maya.
 
 

Terbukti, Ada Es di Merkurius

WASHINGTON - Tim ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa berdasarkan hasil observasi terbaru dengan wahana antariksa Messenger, Merkurius terbukti memiliki air dalam bentuk es.

Bagian berwarna merah adalah kutub utara Merkurius. Wahana Messenger membuktikan bahwa es ada di wilayah itu.


"Data terbaru mengindikasikan adanya air dalam bentuk es di bagian kutub Merkurius, menyebar di area seluas Washington dan memiliki ketebalan lebih dari 3,2 km," kata David Lawrence, peneliti NASA yang turut andil dalam riset ini.

Temperatur Merkurius bisa mencapai 427 derajat celsius. Namun, di wilayah kutub utara yang karena kemiringan sumbu Merkurius tak mendapatkan sinar Matahari, temperatur tergolong rendah sehingga memungkinkan adanya es.

Es di kutub utara Merkurius terdapat mulai dari koordinat 85 derajat lintang utara Merkurius. Sementara lapisan es tipis bisa menyebar hingga koordinat 65 derajat lintang utara. Ilmuwan juga percaya bahwa kutub selatan Merkurius memiliki es, tetapi observasi belum dimungkinkan.

Adanya es di Merkurius telah diduga sejak tahun 1991. Saat itu, teleskop di Puerto Riko menemukan adanya bagian yang berwarna terang di kutub planet terdekat dari Matahari itu. Es juga kadang ditemukan di wilayah yang berdasarkan observasi tahun 1970-an merupakan kawah raksasa.

Citra Messenger terbaru mengonfirmasi bahwa bagian berwarna terang itu berada di wilayah dengan suhu rendah yang memungkinkan adanya es. Instrumen spektrometer netron pada Messenger menganalisis konsentrasi hidrogen, bagian dari air, dan menemukan bahwa air dalam bentuk es memang ada.

Studi mengungkap bahwa di wilayah yang paling dingin, lapisan air ada di atas. Namun, di wilayah yang lebih hangat di mana es dilapisi oleh material gelap (isolator panas) yang memiliki kadar hidrogen lebih rendah.

David Paige dari NASA yang juga terlibat di riset ini menyatakan, material gelap itu adalah kunci untuk memahami bagaimana air bisa sampai di Merkurius. Menurutnya, material gelap itu terdiri dari senyawa organik yang berasal dari komet ataupun asteroid yang menumbuk Merkurius.

Sea Solomon, pimpinan riset yang juga astronom di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, mengatakan, "Lebih dari 20 tahun kami bertanya-tanya apakah planet terdekat dari Matahari memiliki es di kutubnya. Messenger memberikan jawaban pasti."

Namun, Solomon juga mengungkapkan bahwa Messenger memberikan pertanyaan baru. "Apakah material gelap di kutub sebagian besar terdiri atas senyawa organik? Apa reaksi kimia yang telah dialami material itu?"

"Adakah wilayah di Merkurius yang memiliki baik air dalam bentuk cair maupun senyawa organik? Hanya dengan penelitian lanjut tentang Merkurius kita bisa berharap mencapai kemajuan dalam menjawab pertanyaan itu," tambah Solomon seperti dikutip AFP, Kamis (29/11/2012).

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science Express pada Kamis kemarin. Messenger telah meneliti Merkurius sejak tahun 2011. Pada tahun 2014 dan 2015, Messenger akan melayang lebih dekat di Merkurius sehingga memungkinkan observasi lebih detail.
Sumber :
AFP